Mengubah Teks Sejarah Menjadi Puisi

Halo, kembali lagi ke tulisanku. Pada tulisanku kali ini, aku akan membahas tentang sebuah teks sejarah di kota Bandung. Pasti kalian sudah tidak asing mendengar kata "Bandung Lautan Api" bukan? Maka dari itu, aku akan membahasnya di blog ini. Bukan hanya membahas mengenai sejarahnya saja, tapi aku akan mengubah teks sejarah ini menjadi sebuah puisi yang aku ciptakan sendiri. Semoga kalian suka dan membacanya dengan baik ya...

Sejarah Bandung Lautan Api

1. Orientasi

Pada Maret 1946, dalam waktu 7 jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan.

Setelah Proklamasi Kemerdekan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan itu harus dicapai dengan sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengobarkan segalanya.

2. Urutan Peristiwa

Ultimatum tersebut supaya Tentara Republik Indonesia (TRI) segera meninggalkan kota dan rakyat, kemudian melahirkan politik “bumihangus”. Rakyat tidak rela jika kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh.

Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung tersebut, diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) dihadapan seluruh kekuatan perjuangan, saat 24 Maret 1946.

Kolonel A.H. Nasution selaku Komandan Divisi memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Bandung. Pada hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir untuk meninggalkan sebuah kota.

Bandung dengan sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Banyak asap hitam mengepul membubung tinggi di udara.

Seluruh listrik mati, dengan begitu inggris mulai menyerang sehingga terjadilah sebuah pertempuran sengit. Pertempuran yang paling menengangkan, di mana terdapat pabrik mesiu milik Sekutu. TRI bermaksud untuk menghancurkan gudang tersebut.

Untuk itu diutuslah pemuda bernama Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakan gudang tersebut dengan granat tangan .Gudang besar itu meledak dan terbakar di dalamnya.

Sejak pada saat itu, kurang lebih pada jam 24.00 Bandung Selatan sudah kosong atas penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, dan Bandung berubah menjadi lautan api.

Pembumihangusan tersebut adalah sebuah langkah yang tepat, karena kekuatan TRI serta rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh dimana berkekuatan yang lebih besar. Selanjutnya TRI bersama dengan rakyat melakukan sebuah perlawanan secara gerilya dari luar kota Bandung.

3. Reorientasi:

Istilah Bandung Lautan Api tersebut, muncul pertama kali dari seorang wartawan bernama Atje Bastaman, dimana ia menyaksikan sebuah pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik pada sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak ia melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Mengubah Teks Sejarah Menjadi Puisi

Tak Rela Tertindas

Karya Elisabeth Cionia


Dua ratus ribu penduduk bersama tentara indonesia

Mengukir sejarah menghabiskan harta

Membela tanah air dengan ladang api

Mennyemarakkan kota dengan kobaran api


Menghanguskan kota dengan sambaran api

Bukti luapan emosi yang tertahan

Api berkobaran di udara mati

Hitam berkabut pun berkerumun


Berjuang dan berkorban membela tanah  air

Tak rela menjadi pengasuh asing

Tak rela menjadi korban jajahan

Bangkit dan berjalan maju tuk berperang


Menyerang yang tak berkuasa

Tak rela atas keadaan tertindas

Mengangkat senjata melawan musuh

Suara ledakan terdengar keras


Sumber teks sejarah: https://rumusrumus.com/contoh-teks-sejarah/

Alasan saya memilih teks sejarah "Bandung Lautan Api" ini adalah karena saya bangga dengan perjuangan para pahlawan serta rakyat Bandung yang mau merelakan segala harta benda yang mereka miliki untuk dilenyapkan dari permukaan bumi ini mejadi butiran debu hitam yang tak lagi berharga, menjadi puing-puing reruntuhan yang tak lagi berguna. Mereka mau merelakan itu semua demi mengusir para penjajah yang tak punya akal budi dan perasaan. Demi kemerdekaan bangsa, mereka mau merelakan rumah dan kekayaan mereka daripada harus menjadi korban jajahan.
Sedikit pantun dari saya:
Ada jendela ada pintu
Ada rusa ada angsa
Ayo bersama kita satu
Demi masa depan bangsa

Sekian tulisanku kali ini. Aku berharap kalian suka dalam membacanya dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Tetap menghargai atas apa yang telah diperjuangkan para pahlawan kita.
Terima kasih.
SALAM MERDEKA!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKS EKSPLANASI

RESENSI BUKU NON-FIKSI

Puisi ku