Buku Fiksi dan Nonfiksi
Buku Fiksi
Pengertian Buku Fiksi
Kata "fiksi" berasal dari bahasa Inggris yaitu "fiction" yang berarti rekaan atau khayalan.
Buku fiksi adalah buku yang berisi tentang cerita yang tidak terjadi, dapat berupa karangan yang dibuat berdasarkan imajinasi, bukan sejarah atau fakta. Contoh buku fiksi adalah novel, novel terjemahan, hikayat, cerita pendek, drama, sinetron, telenovela, dan lain-lain.
Pengertian fiksi adalah sebuah prosa naratif yang sifatnya imajinasi atau karangan non-ilmiah dari penulis dan bukan berdasarkan kenyataan. Dengan kata lain. fiksi belum tentu terjadi di dunia nyata dan hanya berdasarkan imajinasi dan pikiran seseorang.
Ciri-Ciri Fiksi
1. Fiksi sifatnya rekaan atau imajinasi dari pengarang.
2. Karya fiksi tidak memiliki sistematika yang baku.
3. Umumnya fiksi menggunakan bahasa yang bersifat konotatif atau tidak mutlak.
4. Umumnya karya fiksi menyasar emosi atau perasaan pembaca, bukan logika.
5. Dalam karya fiksi terdapat pesan moral atau amanat tertentu.
Buku Non-Fiksi
Pengertian Buku Non-fiksi
Pengertian non-fiksi adalah suatu tulisan yang isinya bukanlah imajinasi atau rekaan penulisnya. Dengan kata lain, tulisan non-fiksi adalah suatu karya seni yang sifatnya faktual atau berdasarkan kenyataan dan mengandung kebenaran di dalamnya.
Ciri-Ciri Non-Fiksi
1. Faktual/fakta.
2. Ditulis menggunakan bahasa formal.
3. Menggunakan metode penulisan denotatif.
4. Berbentuk tulisan ilmiah populer.
A. Menilai Isi Buku
Apa yang perlu dinilai dari isi buku? Menilai atau menimbang baik buruknya isi buku bisa ditinjau dari berbagai segi/unsur.
Contoh komentar kelebihan buku:
* "Membaca buku ini seakan berpetualang ke seluruh wilayah Indonesia yang indah."
* "Ini adalah buku yang mengagumkan yang dapat mengubah hidup anda."
* "Penulis memberikan suatu filosofi, campuran sempurna dari kebijaksanaan, perasaan baru, dan pengalaman praktis."
* "Ia menulis dengan penuh wawasan dan ia peduli kepada manusia."
* "Sukses dapat dipelajari dan buku ini adalah cara sangat efektif untuk mempelajarinya."
Contoh komentar kekurangan buku:
* "Sedikit kelemahan buku ini adalah penggunaan istilah-istilah lokal yang cukup banyak sehingga mengganggu pemahaman pembaca yang belum memahami daerah tersebut."
* "Ada sedikit ketidaklogisan cara pengarang memunculkan tokoh."
B. Menyusun Laporan Hasil Membaca Buku
Untuk aktivitas menyusun laporan hasil membaca buku, diperlukan analisis unsur instrinsik dan ekstrinsik.
Unsur Intrinsik
Intrinsik terdiri atas alur, tema, penokohan, sudut pandang, latar, dan amanat. Dalam pengertian unsur-unsur intrinsik dan penjelasan dari seluruh unsur intrinsik tersebut unsur-unsur intrinsik digunakan untuk menganalisis karya sastra. Unsur intrinsik adalah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra.
Unsur-unsur intrinsik
Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur intrinsik:
a. Alur (plot).
Alur atau jalan cerita merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat. Intisari alur ada pada permasalahan cerita. Alur terdiri atas:
1. Saling mengenal.
2. Munculnya konflik.
3. Konflik meninggi.
4. Klimaks.
5. Menyelesaikan konflik atau masalah.
Ditahap saling mengenal, pengarang mulai menggambarkan situasi dan memperkenalkan tokoh-tokoh cerita sebagai pendahuluan. Di bagian kedua, pengarang mulai menampilkan pertikaian yang terjadi di antara tokoh. Pertikaian ini semakin meninggi, dan puncaknya dari masalah tersebut terjadi di bagian keempat atau kelima. Setelah fase tersebut terlampaui, sampailah di bagian kelima atau pemecahan masalah. Alur pun menurun menuju ke mencari solusi dalam masalah dan penyelesaian cerita. Timbulnya konflik sering berhubungan erat dengan unsur watak dan latar. konflik dalam cerita mungkin terjadi karena watak seorang tokoh yang menimbulkan persoalan bagi tokoh lain atau lingkungannya.
b. Tema.
Tema adalah inti atau ide pokok dalam cerita. Tema merupakan awal tolak pengarang dalam menyampaikan cerita. Tema suatu cerita menyangkut segala persoalan dalam kehidupan manusia, baik masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, dan sebagainya.
c. Penokohan.
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh, pengarang dapat juga menyebutkannya langsung, misalnya si A itu penyabar, si B itu murah hati. Penjelasan karakter tokoh dapat pula melalui gambaran fisik dan perilakunya, lingkungan kehidupannya, cara bicaranya, jalan pikirannya, ataupun melalui penggambaran oleh tokoh lain.
d. Sudut pandang (point of view).
Sudut pandang adalah posisi pengarang atau narator dalam membawakan cerita tersebut. Posisi pengarang dalam menyampaikan cerita ada beberapa macam:
1. Narator serba tahu adalah narator bertindak sebagai pencipta segalanya yang serba tahu. Ia dapat menciptakan segala hal yang diinginkannya seperti mengemukakan perasaan, kesadaran ataupun jalan pikiran para tokoh cerita.
2. Narator objektif adalah pengarang tak memberi komentar apapun. Pengarangnya menceritakan apa yang terjadi seperti penonton melihat pementasan drama. Pengarang sama sekali tidak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku.
3. Narator aktif adalah narator juga aktor yang terlibat dalam cerita tersebut yang terkadang fungsinya sebagai tokoh sentral. Dengan posisi demikian, narator hanya boleh melihat dan mendengar apa yang orang biasa lihat atau dengar.
4. Narator sebagai peninjau adalah pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian yang ada pada cerita lakukan bersama tokoh ini. Tokoh ini bisa bercerita tentang pendapatnya atau perasaannya sendiri.
e. Latar.
Latar (setting) merupakan tempat waktu dan suasana terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh. Dalam cerpen, novel, ataupun bentuk prosa lainnya terkadang biasanya tidak disebutkan secara jelas latar perbuatan tokoh itu. Misalnya, di tepi hutan, di sebuah desa, pada suatu waktu, pada zaman dahulu kala senja.
f. Amanat.
Amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karya yang diciptakan itu. Tidak terlalu berbeda dengan bentuk cerita yang lainnya, amanat dalam novel akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk mendapatkannya, tidak cukup hanya membaca dua atau tiga paragraf, melainkan membaca cerita tersebut sampai tuntas.
Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah bagian atau komponen yang terdapat dalam sebuah karya sastra (cerpen, novel, puisi, dan lainnya) yang membentuk atau membangun sebuah karya sastra dari luar. Dengan kata lain, unsur ekstrinsik adalah unsur yang mempengaruhi sebuah karya sastra yang berasal dari luar (bukan dari dalam karya sastra). Jadi unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada diluar karya sastra, namun memiliki pengaruh terhadap karya sastra secara tidak langsung.
Unsur-unsur ekstrinsik
Berikut ini adalah unsur-unsur ekstrinsik karya sastra:
a. Latar belakang (biografi pengarang).
Biografi adalah sebuah kisah yang menceritakan proses kehidupan seseorang (pengarang karya sastra). Untuk mengetahui latar belakang atau biografi sang penulis dapat melalui beberapa faktor. Pertama, dapat dilakukan dengan meninjau riwayat hidup. Faktor ini sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan paradigma tentang suatu hal yang dipandangnya. Kedua, kondisi psikologis sang penulis. Faktor ini akan menunjukkan motivasi atau mood seorang penulis dalam menghasilkan sebuah karya sastra. Aliran sastra penulis. Aliran sastra merupakan panutan yang diyakini oleh seorang penulis, dan setiap penulis memiliki aliran sastra yang berbeda antara penulis satu dengan penulis yang lain. Hal tersebut akan dapat memengaruhi terhadap gaya bahasa yang digunakan dalam menghasilkan sebuah karya sastra.
b. Kondisi masyarakat dan lingkungan penulis.
Salah satu unsur yang dapat mempengaruhi pembentukan sebuah karya sastra adalah unsur kondisi masyarakat dan lingkungan penulis.
Terdapat beberapa faktor yang ada di dalam unsur kondisi masyarakat dan lingkungan penulis, yaitu:
a. Ideologi suatu negara.
b. Kondisi politik yang diamati oleh penulis.
c. Kondisi sosial masyarakat tempat penulis tinggal.
d. Kondisi lingkungan tempat penulis tinggal.
e. Kondisi ekonomi yang dialami oleh penulis dan masyarakat lingkungannya.
c. Nilai-nilai yang tersemat dalam karya sastra.
Unsur ini hampir sama dengan unsur amanat yang ada dalam unsur intrinsik, yaitu memberikan pengetahuan dan pemahaman akan sesuatu terhadap pengamat melalui kandungan nilai-nilai yang tersemat dalam sebuah karya sastra tersebut. Nilai-nilai yang ada dalam unsur ekstrinsik berpengaruh tidak nyata, namun dapat dirasakan ada keberadaannya dengan sebuah pemahaman yang mendalam akan sebuah karya sastra.
Berikut adalah nilai-nilai yang dapat mempengaruhi sebuah karya sastra:
# Nilai Agama.
Nilai agama yang terkandung dalam sebuah karya sastra pada umumnya memberikan gambaran terkait dengan tuntunan, hukum, ajaran, amanat, dan lain-lain suatu agama yang dikemas ke dalam sebuah karya sastra dengan baik dan indah.
# Nilai Sosial.
Nilai sosial dalam sebuah karya sastra pada umumnya juga memberikan penjelasan dan gambaran terkait dengan fenomena sosial, rekonstruksi sebuah masyarakat, amanat dan lain-lain dan juga dikemas indah ke dalam suatu karya sastra.
# Nilai Moral.
Nilai yang ketiga adalah nilai moral yang merupakan nilai yang memberikan gambaran ke dalam sebuah karya sastra terkait dengan etika dan akhlak dalam berperilaku terhadap sesama. Nilai moral dalam sebuah karya sastra biasanya ditunjukkan dengan adanya sebuah perilaku dan tutur kata baik yang diperankan oleh tokohnya.
# Nilai Budaya.
Nilai budaya dalam sebuah karya sastra menceritakan tentang sebuah kebudayaan tradisi adat istiadat yang berlaku dalam suatu wilayah tertentu. Nilai budaya juga dapat memberikan amanat terkait dengan pelestarian budaya, dan amanat amanat yang lainnya.
Sumber:
1. https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-fiksi.html
2. https://penerbitdeepublish.com/mendalami-lima-ciri-ciri-buku-nonfiksi/
3. Buku Bahasa Indonesia Kelas XII SMK/MAK Kurikulum 2013.
Komentar
Posting Komentar